SURABAYA, sorotpos.com – Kehidupan profesional di era digital menuntut produktivitas yang bergerak tanpa batas. Di balik kemudahan teknologi yang memungkinkan sistem kerja jarak jauh (remote working), tersimpan tantangan psikologis baru yang kian nyata dihadapi oleh generasi pekerja saat ini.
Fenomena tersebut dikenal dengan istilah juggling burnout—sebuah kondisi kelelahan mental ekstrem yang dipicu oleh tuntutan untuk memainkan banyak peran sekaligus dalam satu waktu secara terus-menerus. Kondisi ini tidak lagi sekadar rasa lelah fisik biasa, melainkan kejenuhan psikologis yang perlahan mengikis produktivitas dan kualitas hidup pekerja modern.
Istilah juggling sendiri merujuk pada atraksi melempar dan menangkap beberapa bola di udara agar tidak jatuh ke tanah. Dalam konteks kehidupan nyata, bola-bola tersebut adalah tanggung jawab pekerjaan kantor, urusan domestik rumah tangga, kehidupan sosial, hingga ambisi pribadi.
Akibat batas ruang kerja dan ruang pribadi yang kian kabur pasca-era digitalisasi, pekerja dipaksa untuk terus beralih fokus (multitasking) secara cepat. Menjawab pesan instan atasan saat sedang memasak, atau menyelesaikan laporan kerja di tengah waktu berkumpul bersama keluarga kini menjadi pemandangan harian yang dianggap lumrah.
Secara psikologis, proses perpindahan fokus yang konstan ini menguras energi otak secara drastis. Berdasarkan analisis para ahli kesehatan mental, otak manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk melakukan multitasking berat dalam jangka panjang.
Ketika seseorang dipaksa untuk terus menjaga semua “bola tanggung jawab” tetap berada di udara tanpa pernah mengambil jeda, sistem saraf akan terus berada dalam kondisi siaga stres (fight or flight).
Akibatnya, timbul gejala klinis seperti penurunan konsentrasi, mudah cemas, gangguan tidur, hingga perasaan tidak berdaya yang berujung pada burnout.
Tantangan ini kian diperparah oleh adanya glorifikasi terhadap budaya kerja berlebihan (hustle culture) di media sosial. Generasi pekerja modern kerap merasa bersalah jika tidak terlihat sibuk atau produktif setiap harinya.
Standarisasi kesuksesan semu ini menciptakan tekanan sosial baru yang memaksa mereka untuk mengambil tanggung jawab di luar batas kapasitas emosional yang sehat.
Untuk memutus rantai juggling burnout, diperlukan kesadaran penuh untuk mulai menetapkan batas yang tegas (boundaries) antara dunia kerja dan kehidupan personal. Langkah sederhana seperti mematikan notifikasi aplikasi komunikasi kantor setelah jam kerja usai, mendelegasikan tugas domestik yang bisa dibagi, serta menjadwalkan waktu istirahat total secara berkala adalah kunci utama.
Menyadari bahwa kita tidak harus menjaga semua bola tetap di udara setiap saat adalah bentuk pertahanan diri terbaik demi menjaga kesehatan mental di tengah tuntutan zaman yang kian cepat. (Red/sorotpos)


Comment