BANJARMASIN, sorotpos.com – Krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan kian memprihatinkan dalam sepekan terakhir. Berdasarkan pantauan titik panas (hotspot) terbaru, kebakaran hebat kini telah meluas di sembilan wilayah Kalimantan Selatan, termasuk kawasan strategis Banjarbaru dan Kabupaten Banjar. Dampak buruk dari bencana ekologis ini tidak hanya mengancam kesehatan warga lokal, tetapi juga mulai memicu ketegangan diplomatik regional setelah kabut asap pekat dilaporkan bertiup melintasi batas negara dan menyelimuti wilayah Malaysia.
Kondisi kualitas udara yang memburuk secara drastis memaksa Pemerintah Malaysia mengambil langkah darurat demi keselamatan warganya. Otoritas pendidikan di negara tetangga tersebut resmi mengumumkan penutupan sementara terhadap hampir 600 sekolah yang berada di wilayah terdekat dengan perbatasan Indonesia. Langkah ini diambil setelah indeks pencemaran udara di kawasan tersebut menyentuh level tidak sehat akibat kiriman asap karhutla dari arah Kalimantan.
Pemerintah Indonesia melalui tim satgas gabungan yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan relawan manggala agni terus berjibaku memadamkan api di titik-titik krusial. Namun, upaya pemadaman darat menghadapi kendala besar di lapangan akibat hembusan angin kencang, keterbatasan sumber air di area lahan gambut yang mengering, serta suhu udara ekstrem di tengah puncak musim kemarau.
“Kami telah mengerahkan tambahan helikopter water bombing untuk melakukan pemadaman dari udara di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau oleh tim darat. Fokus utama kami adalah melokalisir titik api di lahan gambut agar tidak terus meluas dan mempertebal produksi asap,” ujar kepala pelaksana BPBD setempat dalam pembaruan situasi di posko darurat.
Di sisi lain, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menegaskan akan mengambil tindakan hukum yang tegas terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, baik individu maupun korporasi. Pengawasan melalui jalur udara dan penyegelan lahan konsesi yang terbakar kini mulai diintensifkan sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menekan angka karhutla serta meredam dampak polusi udara lintas batas (transboundary haze pollution).
Masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan wajib menggunakan masker medis guna menghindari risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kerja sama sinergis antar-daerah dan penegakan hukum yang tanpa pandang bulu menjadi kunci utama agar tragedi kabut asap tahunan ini tidak terus berulang dan merugikan produktivitas serta hubungan baik antar-negara di Asia Tenggara. (Red/sorotpos)


Comment